Proyek Listrik dari Sampah di Semarang Disorot, DPRD Ingatkan Risiko Teknis hingga SDM

SEMARANG, jatengjuara.com — Rencana mengolah sampah menjadi energi listrik di TPA Jatibarang mendapat dukungan sekaligus peringatan serius dari DPRD Kota Semarang. Di tengah urgensi penanganan sampah, proyek ini dinilai tidak boleh sekadar ambisi di atas kertas.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Suharsono, menilai inisiatif tersebut sebagai langkah strategis untuk mengatasi lonjakan produksi sampah yang kini mencapai 1.200–1.300 ton per hari. Namun, ia menekankan bahwa tantangan teknis di lapangan tidak bisa dianggap remeh.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada komposisi sampah Kota Semarang yang didominasi sekitar 65 persen sampah organik dengan kadar air tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya nilai kalor, sehingga proses pengolahan seperti gasifikasi berpotensi tidak berjalan optimal tanpa perlakuan awal.

“Kalau kadar air dan komposisi tidak ditangani serius, teknologi secanggih apa pun bisa bermasalah saat operasional. Di atas kertas terlihat ideal, tapi praktiknya jauh lebih kompleks,” tegasnya, Selasa (31/3/2026).

Ia juga menyoroti tantangan integrasi sistem. Saat ini, TPA Jatibarang telah lama beroperasi sebagai landfill dan memiliki sistem gas landfill. Menggabungkan sistem tersebut dengan teknologi gasifikasi serta jaringan listrik membutuhkan desain teknis yang presisi dan pengendalian operasi yang ketat.

Tanpa itu, risiko gangguan proses hingga peningkatan emisi udara dinilai bisa terjadi. Terlebih, pengalaman daerah dalam mengoperasikan teknologi gasifikasi skala besar masih terbatas.

“Jangan sampai kita hanya jadi penonton. Harus ada transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM lokal,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, telah menghadiri penandatanganan kesepakatan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (28/3/2026).

Ia menegaskan, proyek tersebut merupakan bagian dari strategi nasional untuk menekan timbulan sampah, khususnya di kawasan dengan produksi tinggi seperti Semarang Raya. Meski demikian, Hanif mengingatkan bahwa pengolahan sampah menjadi energi tidak bisa berdiri sendiri.

“Harus diiringi penguatan pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber. Ini langkah penting, tapi bukan satu-satunya solusi,” ujarnya.

Dengan berbagai catatan tersebut, proyek ini kini berada di persimpangan: menjadi solusi besar bagi krisis sampah, atau justru menghadapi hambatan serius jika tak dirancang secara matang. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh