Fokus Pemulihan Banjir Demak, Pemprov Jateng Kucurkan Ratusan Juta untuk Pengungsi

DEMAK, jatengjuara.com — Upaya penanganan banjir di Kabupaten Demak terus diperkuat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan bantuan darurat senilai Rp 236 juta lebih guna memastikan kebutuhan dasar ribuan warga terdampak tetap terpenuhi selama masa pengungsian.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, turun langsung meninjau lokasi pengungsian di Kantor Kecamatan Guntur. Dalam kunjungan tersebut, ia tidak hanya menyerahkan bantuan secara simbolis, tetapi juga mengecek langsung distribusi logistik bagi para pengungsi.

Menurutnya, pemenuhan layanan dasar seperti kesehatan, pangan, hingga pendidikan harus tetap berjalan meskipun dalam situasi darurat. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh mengabaikan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Banjir yang melanda wilayah Demak dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Tuntang sehari sebelumnya. Peristiwa tersebut menyebabkan genangan meluas ke sejumlah desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Ribuan warga pun terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di titik-titik pengungsian.

Berdasarkan data terbaru, jumlah pengungsi mencapai 2.839 jiwa. Mereka tersebar di berbagai lokasi yang telah disiapkan pemerintah setempat.

Bantuan yang disalurkan merupakan hasil kolaborasi berbagai instansi di tingkat provinsi, mulai dari BPBD Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga Palang Merah Indonesia. Sinergi ini difokuskan untuk mempercepat penanganan darurat sekaligus menjaga kondisi para pengungsi tetap stabil.

Selain penanganan jangka pendek, pemerintah provinsi juga menyoroti pentingnya solusi jangka panjang. Normalisasi aliran sungai dari hulu hingga hilir dinilai menjadi langkah krusial untuk mencegah banjir berulang yang kerap terjadi setiap tahun.

Usai melakukan peninjauan, gubernur menggelar rapat terbatas bersama Bupati Demak untuk merumuskan strategi pemulihan pascabencana.

Di sisi lain, pengalaman warga saat banjir datang masih membekas. Salah satu pengungsi asal Desa Trimulyo mengungkapkan bahwa air naik dengan sangat cepat hingga mencapai dada orang dewasa. Evakuasi pun harus dilakukan menggunakan perahu karena derasnya arus yang tidak memungkinkan untuk berjalan kaki.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan dan penanganan terintegrasi sangat dibutuhkan untuk menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh