47 Ribu Warga Semarang Terindikasi Hipertensi, Dinkes Ingatkan Pentingnya Jalan Kaki Setiap Hari

SEMARANG, jatengjuara.com – Kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki ternyata bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan tubuh. Karena itu, masyarakat Kota Semarang kini diajak lebih rajin bergerak dengan menargetkan 6.000 langkah setiap hari.

Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes yang masih banyak ditemukan di masyarakat.

Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan perhatian terhadap dua penyakit tersebut semakin penting setelah pemerintah menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Dari sekitar 947.000 warga yang sudah mengikuti pemeriksaan atau 54 persen dari total sasaran, tercatat sebanyak 47.000 kasus hipertensi dan 23.000 kasus diabetes.

Jumlah tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan sebaiknya dimulai sebelum penyakit muncul. Masyarakat pun perlu lebih peduli terhadap kebiasaan sehari-hari, mulai dari aktivitas fisik hingga makanan yang dikonsumsi.

Hakam menyebut, salah satu cara yang ingin dibangun adalah menjadikan jalan kaki sebagai bagian dari rutinitas warga. Gerakan ini dikemas melalui program Gerakan Masyarakat Melalui Sehat (Gemas) yang mulai diperkenalkan sejak pertengahan 2026.

Ia berharap masyarakat tidak hanya bergerak ketika berolahraga, tetapi juga mulai mengurangi kebiasaan terlalu lama duduk atau kurang melakukan aktivitas fisik.

“Kalau kita tidak menyiapkan diri, tidak membiasakan diri, tidak membuat masyarakat kita punya budaya jalan, maka kita akan mendapati masyarakat Semarang yang mempunyai penyakit tidak menular semakin tahun semakin bertambah banyak,” ujarnya.

Menurut Hakam, berjalan kaki bisa dilakukan dengan menyesuaikan waktu luang masing-masing. Pagi hari sebelum berangkat kerja dapat menjadi pilihan, begitu pula sore atau malam hari.

Bagi warga muslim, olahraga juga bisa dilakukan setelah menjalankan ibadah pagi. Dengan begitu, aktivitas menjaga kebugaran tetap bisa berjalan tanpa harus mengganggu pekerjaan.

“Kalau olahraga itu sebetulnya bagusnya pagi hari. Setelah beribadah, bagi yang muslim, bisa olahraga dulu sebelum melakukan aktivitas pekerjaan, baik yang bekerja di pemerintahan maupun swasta,” katanya.

Meski mendorong warga lebih aktif, Hakam mengingatkan agar olahraga tidak dilakukan secara berlebihan. Setiap orang perlu mengetahui kemampuan tubuhnya sehingga aktivitas yang dilakukan tetap aman dan nyaman.

“Kita harus membuat badan kita itu sesuai dengan kebutuhan. Aktivitas fisik kalau terlalu terbebani juga pasti akan jelek terhadap tubuh,” jelasnya.

Tidak hanya soal olahraga, kebiasaan makan juga menjadi perhatian dalam program edukasi kesehatan tersebut.

Hakam mengingatkan bahwa makanan yang dikonsumsi setiap hari harus memiliki kandungan gizi yang cukup. Masyarakat sebaiknya tidak hanya berpatokan pada jadwal makan, tetapi juga memperhatikan komposisi nutrisi di dalamnya.

Kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan zat gizi lainnya perlu dipenuhi secara seimbang agar tubuh tetap sehat.

“Masyarakat juga kita edukasi untuk pola makan sehat dan aman. Mereka harus tahu nilai gizi yang dikonsumsi. Tidak asal makan tiga kali sehari, tetapi juga melihat apakah karbohidrat, protein, vitamin dan sebagainya sudah terpenuhi,” paparnya.

Hal lain yang tak kalah penting adalah membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak. Ketiga bahan tersebut kerap ditemukan dalam makanan maupun minuman sehari-hari, sehingga masyarakat perlu lebih teliti saat memilih produk.

Dalam edukasi yang disampaikan, batas konsumsi harian yang dianjurkan yakni maksimal 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak.

Hakam menjelaskan, konsumsi berlebihan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Risiko yang perlu diwaspadai antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan kadar lemak dalam darah, hingga stroke.

“Kalau kebutuhannya melebihi dalam satu hari, pasti akan berisiko meningkatkan hipertensi, diabetes dan dislipidemia. Itu juga bisa mempercepat kejadian stroke dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Ia juga menyambut positif rencana penerapan cukai terhadap minuman berpemanis dalam kemasan. Menurutnya, aturan tersebut bisa menjadi salah satu upaya untuk mengendalikan kandungan gula pada produk yang beredar di pasaran.

Dengan adanya regulasi, produsen diharapkan lebih memperhatikan komposisi produk yang dibuat. Sementara itu, masyarakat juga mendapatkan perlindungan melalui pengaturan kandungan bahan dalam makanan dan minuman.

“Saya sangat setuju. Kalau dari sisi masyarakat terlindungi dan ada aturan yang mengatur, dari sisi penyedia atau produsen juga dibatasi dengan nilai-nilai yang memang sudah diatur,” tuturnya.

Dinkes Kota Semarang berharap masyarakat mulai menerapkan kebiasaan sehat dari hal-hal sederhana. Berjalan kaki setiap hari, mengatur pola makan, dan tidak berlebihan mengonsumsi gula, garam, serta lemak menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh