Tanah Bergerak Landa Kampung Sekip Semarang, Satu Rumah Ambruk dan Jalan Kampung Terancam Putus

SEMARANG, jatengjuara.com – Fenomena tanah bergerak melanda Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, menyusul tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir. Dampaknya, satu rumah warga ambruk, dua bangunan lain mengalami kerusakan, serta kandang ternak ikut terdampak.

Pergerakan tanah ini dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut selama dua hari berturut-turut pada Rabu dan Kamis pekan lalu. Meski demikian, warga menyebut tanda-tanda awal sebenarnya sudah terlihat sejak sekitar sebulan sebelumnya.

“Sudah hampir sebulan ada gejalanya, tapi tidak separah ini. Setelah hujan dua hari itu, langsung parah. Seketika dua rumah terdampak,” kata Slamet Riyadi, warga setempat.

Menurut Slamet, kejadian di Kampung Sekip bukan longsor mendadak, melainkan pergerakan tanah secara perlahan yang menyebabkan bangunan bergeser hingga akhirnya roboh. Salah satu rumah bahkan terlihat seolah terseret masuk ke dalam tanah.

“Bukan longsor, tapi tanahnya seperti bergerak. Rumah itu hampir masuk ke dalam tanah,” ujarnya.

Hasil pantauan di lokasi menunjukkan kondisi tanah masih labil. Permukaan tanah terasa goyah saat dipijak, sementara jalan lingkungan yang berada di jalur menanjak kini dipenuhi retakan dan amblesan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena jalan kampung menjadi akses utama aktivitas warga.

Slamet menuturkan, kawasan Kampung Sekip memang dikenal sebagai wilayah rawan pergerakan tanah. Namun, ia menyebut kejadian kali ini sebagai yang terparah sepanjang hidupnya.

“Dari dulu memang rawan. Tapi yang paling parah ya ini. Saya lahir di sini, belum pernah melihat seperti sekarang,” ungkapnya.

Kerugian akibat peristiwa ini ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Selain rumah, kerusakan juga menimpa kandang ternak milik warga.

“Kalau dihitung, ya puluhan juta ada, karena satu rumah dan kandang rusak parah,” beber Slamet.

Ketua RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Joko Sukaryono, menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan fenomena tanah bergerak, bukan longsor. Ia menjelaskan, pergerakan tanah terjadi secara bertahap namun berdampak signifikan terhadap permukiman.

“Ini tanah bergerak, istilahnya tanah ‘mletek’. Ada rumah yang sudah bergeser sekitar dua meter dari posisi awal, tapi belum roboh karena bangunannya masih kuat,” jelas Joko.

Ia menambahkan, kejadian serupa pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu. Namun, pergerakan tanah saat ini dinilai jauh lebih cepat dan berbahaya.

“Dulu sudah pernah, puluhan tahun lalu. Sekarang muncul lagi dan pergerakannya cepat, bukan per hari, tapi per menit,” ungkapnya.

Meski satu rumah dilaporkan roboh, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena bangunan tersebut dalam kondisi kosong dan hanya digunakan sebagai gudang. Ancaman terbesar saat ini justru mengarah pada potensi rusaknya akses jalan lingkungan.

“Kalau motor tidak bisa lewat, warga parkir di bawah lalu jalan kaki. Sementara itu yang bisa kami lakukan,” kata Joko.

Ia menyebutkan, sejumlah instansi terkait telah turun langsung meninjau lokasi terdampak, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh