Leptospirosis Merebak di Jateng Pascabanjir, Tujuh Warga Pati dan Jepara Meninggal Dunia

SEMARANG, jatengjuara.com – Ancaman penyakit pascabanjir di Jawa Tengah kian serius. Leptospirosis atau penyakit yang ditularkan melalui air seni tikus dilaporkan meningkat tajam di sejumlah daerah, dengan korban meninggal dunia tercatat di Kabupaten Pati dan Jepara pada awal 2026.

Lonjakan kasus terjadi seiring meluasnya genangan banjir di wilayah permukiman padat. Lingkungan yang lembap, sanitasi buruk, serta rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi faktor dominan penyebaran bakteri Leptospira.

Di Kota Semarang, tren kasus menunjukkan kecenderungan meningkat dalam tiga tahun terakhir. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, menyebutkan bahwa meski jumlah kasus sempat naik turun, angka kejadian pada 2025 melonjak signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Lepto ini disebabkan oleh bakteri, bukan virus. Jumlah kasus pada 2025 meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya,” ujar Hakam,

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, sepanjang 2023 ditemukan 38 kasus dengan 10 kematian. Pada 2024, jumlah kasus menurun menjadi 32 dengan lima korban meninggal. Namun, pada 2025 angka kembali naik drastis menjadi 59 kasus dengan delapan kematian. Secara akumulatif, 23 warga Semarang meninggal akibat leptospirosis dalam tiga tahun terakhir.

Situasi serupa juga terjadi di wilayah Pantura Timur Jawa Tengah pascabanjir awal 2026. Kabupaten Pati mencatat 35 kasus dengan empat korban meninggal dunia, sementara Kabupaten Jepara melaporkan 13 kasus dengan tiga kematian.

Meningkatnya angka fatalitas mendorong Dinas Kesehatan Kota Semarang memperketat langkah pengendalian. Strategi yang ditempuh difokuskan pada pemutusan rantai penularan dengan menekan populasi tikus sebagai sumber utama bakteri.

Salah satu langkah yang digencarkan adalah Operasi Tangkap Tikus (OTT), terutama di kawasan padat penduduk dan daerah yang dinilai rawan. Program ini telah dijalankan sejak akhir 2025 dan terus diperluas pada 2026.

Setiap kelurahan ditargetkan mampu menangkap puluhan hingga ratusan ekor tikus. Hasil tangkapan kemudian ditangani oleh petugas puskesmas, bersamaan dengan pemberian edukasi kepada warga terkait pencegahan leptospirosis dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Lonjakan kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya setelah banjir, guna mencegah penularan penyakit yang berpotensi mematikan tersebut. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh