SEMARANG, jatengjuara.com — Demam padel tengah melanda Kota Semarang. Dalam setengah tahun terakhir, lapangan dan klub baru bermunculan di berbagai sudut kota. Lonjakan ini menandai tingginya animo warga terhadap olahraga yang sedang naik daun tersebut.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeung Pramestuti, melihat geliat ini sebagai peluang besar bagi penguatan budaya olahraga. Namun ia mengingatkan, popularitas semata tidak cukup tanpa pembinaan berkelanjutan.
“Saya melihat fenomena padel di Semarang ini sangat luar biasa. Dalam kurun waktu enam bulan, lapangan padel tumbuh sangat pesat. Ini olahraga yang menghadirkan nuansa keakraban. Jadi tidak sekedar menyehatkan, namun juga membuat kita bisa berteman dengan banyak orang,” ujarnya usai menghadiri pelantikan pengurus Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Kota Semarang, Kamis (12/2/2026).
Padel kini telah berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), membuka jalan menuju sistem kompetisi resmi dan pembinaan prestasi.
“Banyak orang bisa bermain padel, tapi belum tentu siap menjadi atlet. Itu yang harus kita dorong. Jangan hanya ramai karena tren, tetapi harus ada pembinaan yang terarah,” tegasnya.
Pembentukan kepengurusan PBPI Kota Semarang menjadi titik awal konsolidasi. Pemerintah kota mendorong agar segera digelar liga dan turnamen rutin untuk menjaring talenta potensial.
Meski berkembang pesat, padel belum sepenuhnya lepas dari cap olahraga FOMO. Kekhawatiran muncul bahwa euforia ini hanya sesaat.
Ketua PBPI Kota Semarang, Alexander Riandro, tak menampik stigma tersebut. Ia menilai konsistensi komunitas menjadi penentu masa depan padel di ibu kota Jawa Tengah itu.
“Memang ada stigma bahwa padel ini hanya olahraga FOMO. Tapi kami melihat setahun ini masih eksis, bahkan hampir di setiap titik di Semarang muncul lapangan baru. Target kami sampai 2030 olahraga ini tetap eksis dan bisa diterima semua kalangan,” ujarnya.
Selain isu tren musiman, label eksklusif juga menjadi tantangan. PBPI berencana memperluas akses dengan menggandeng sekolah-sekolah agar padel bisa masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekaligus jalur pembinaan usia dini.
Saat ini, geliat padel di Semarang ditopang sekitar 50 komunitas aktif dan 11 hingga 15 venue yang tersebar di berbagai kawasan kota.
“Dalam waktu dekat kami akan mengadakan turnamen bersama PPBI Jawa Tengah. Ajang ini sekaligus menjadi sarana screening untuk memetakan para pemain, termasuk mengetahui mereka berada di kelas mana,” kata Alexander.
Padel di Semarang kini berada di persimpangan: bertahan sebagai gaya hidup urban atau bertransformasi menjadi cabang olahraga prestasi yang berkelanjutan. (jj02/e02)









