Talud Perumahan di Rowosari Tembalang Ambruk Diterjang Hujan, Warga Minta Tanggul Sementara

SEMARANG, jatengjuara.com – Dinding penahan tanah setinggi kurang lebih 1,5 meter yang mengitari Perumahan Rowosari Megah Asri 2, Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mengalami kerusakan parah setelah diterjang hujan deras pada Senin (16/2/2026) dini hari.

Talud tersebut runtuh akibat tingginya curah hujan yang mengguyur kawasan itu sejak Minggu malam. Lokasi yang terdampak berada di sisi perumahan yang berbatasan langsung dengan aliran Kali Babon, sehingga memicu kekhawatiran warga akan potensi banjir.

Kerusakan terjadi di gang blok C5-6 sekitar pukul 01.00 WIB, saat sebagian besar penghuni masih beristirahat. Debit air sungai yang meningkat drastis diduga memberi tekanan kuat pada struktur pembatas hingga akhirnya ambrol.

Seorang warga RT 5/RW 10, Nurul Huda (47), mengatakan dirinya terbangun setelah mendengar bunyi alarm Early Warning System (EWS) yang terpasang di jembatan Kali Babon.

“Alarm EWS berbunyi keras, saya langsung keluar rumah. Air sempat setinggi leher sebelum akhirnya talud jebol. Itu talud swadaya warga setelah banjir tiga tahun lalu,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).

Rumah Nurul berada hanya satu bangunan dari titik kerusakan. Ia mengaku khawatir jika hujan lebat kembali turun, air sungai bisa meluap ke permukiman. Ia pun meminta pemerintah segera mengambil langkah darurat.

“Kami berharap segera dibuatkan tanggul sementara, bisa pakai bronjong kawat atau karung pasir. Soalnya talud yang ada ini memang hasil gotong royong warga,” katanya.

Talud Rusak Capai Lebih dari Enam Meter

Ketua RW 10 Rowosari Megah Asri 2, Fuad, mengungkapkan panjang talud yang ambruk diperkirakan melebihi enam meter. Kondisi ini membuat perlindungan kawasan terhadap ancaman luapan Kali Babon semakin rentan.

Menurutnya, solusi paling mendesak adalah pemasangan tanggul darurat guna menahan tekanan air sungai, terutama saat hujan deras turun pada malam hari.

“Kalau bisa segera dipasang bronjong kawat sebagai penahan sementara. Warga sekarang diliputi rasa cemas,” ujar Fuad.

Ia menjelaskan, talud yang runtuh tersebut dibangun secara swadaya oleh warga usai banjir melanda kawasan itu sekitar tiga tahun silam. Karena keterbatasan biaya, konstruksinya dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi debit air tinggi saat cuaca ekstrem.

Saat ini, warga secara bergiliran memantau kondisi bantaran sungai, terutama ketika hujan berlangsung lama. Mereka khawatir kerusakan bisa semakin meluas apabila tidak segera ditangani.

Desak Penanganan Cepat dan Solusi Permanen

Warga berharap instansi terkait, termasuk dinas teknis yang membidangi pekerjaan umum dan pengelolaan sumber daya air, segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan dan memasang pengaman darurat.

Langkah cepat dinilai krusial mengingat Februari masih termasuk periode puncak musim hujan di Kota Semarang. Intensitas hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan kenaikan debit Kali Babon secara mendadak, khususnya pada malam hingga dini hari.

Selain penanganan sementara, masyarakat juga menginginkan pembangunan talud permanen berbahan beton dengan standar teknis yang lebih kuat agar mampu menahan tekanan air dan meminimalkan risiko banjir di masa mendatang.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur pengendali banjir di wilayah Tembalang, terutama di kawasan permukiman yang berada tepat di tepi aliran sungai. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh