Ribuan Warga Serbu 8.000 Ganjel Rel di Puncak Dugderan Semarang

SEMARANG, jatengjuara.com – Ribuan warga memadati Alun-alun Kota Semarang saat puncak tradisi Dugderan 2026 digelar, Senin (16/2/2026). Momen paling ditunggu adalah pembagian sekitar 8.000 potong kue ganjel rel yang langsung ludes dalam hitungan menit.

Usai prosesi sakral pemukulan bedug dan dentuman meriam oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, gunungan ganjel rel yang disusun menyerupai masjid dibagikan kepada masyarakat. Tangan-tangan terangkat, warga saling berdesakan demi mendapatkan kudapan khas tersebut.

“Senang pastinya bisa dapat [ganjel rel], padahal tahun ini baru pertama kali lihat tradisi Dugderan. Saya dari Blora, baru ngeratau ke Semarang,” ujar Didin, pengunjung asal Blora.

Tak semua beruntung. Sebagian harus pulang tanpa membawa kue, sementara yang lain tersenyum puas. Reza, warga Semarang Utara, bahkan berhasil membawa pulang dua potong setelah tahun lalu gagal mendapatkannya.

“Jadi tahun kemarin itu nggak dapat, makanya tahun ini harus dapat. Ini dapat dua, tadi rebutan di tengah sama orang-orang,” katanya.
“Dugderan kan cuma setahun sekali, jadi kesempatan dapat ganjel rel itu seperti rebutan roti ikonik khas Semarang. Pokoknya harus dapat,” tambahnya.

Antusiasme serupa dirasakan Diana, warga Bangetayu. “Awalnya saya posisi di tengah, saat ganjel rel dilempar akhirnya berebut dan hancur. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mendekat ke panggung, dan alhasil dapat dua dari Bu Agustina,” ungkapnya.

Ganjel rel sendiri merupakan jajanan tradisional khas Semarang yang identik dengan Dugderan, tradisi tahunan menyambut Ramadan. Kue berbentuk persegi panjang dengan tekstur padat dan taburan wijen ini telah menjadi bagian Dugderan sejak 2009, meski jejaknya sudah ada sejak era kolonial.

Pembuatnya, Aunil Fadlilah, menjelaskan kue ini terinspirasi dari roti Belanda Onbitjkoek yang kemudian dimodifikasi dengan bahan lokal seperti gaplek, gula jawa, dan rempah-rempah.

“Kue ganjel rel memiliki tekstur padat dan bentuk menyerupai bantalan rel kereta api. Filosofinya adalah memberi kekuatan dan ketahanan bagi umat Muslim yang berpuasa, seperti bantalan rel yang kokoh menopang kereta,” paparnya.

“Dulu, tidak semua orang bisa mencicipi Onbitjkoek karena bahan-bahannya mahal. Maka, masyarakat menyesuaikan dengan bahan yang mudah didapat seperti gaplek, gula jawa, dan rempah-rempah,” tandasnya.

Tradisi Dugderan tahun ini diawali pasar rakyat selama sepekan dan ditutup kirab budaya dari Balai Kota menuju Masjid Agung Semarang hingga Masjid Agung Jawa Tengah. Sepanjang rute, ribuan warga memadati jalan menyaksikan arak-arakan kesenian dan replika Warak Ngendog, menegaskan Dugderan sebagai penanda semarak datangnya Ramadan di Kota Semarang. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh