Oleh : Hidayat
Senja di kawasan Pekojan, Kota Semarang, selalu punya aroma yang berbeda setiap bulan Ramadan. Bukan hanya wangi takjil atau gorengan yang mengepul dari penjaja kaki lima, melainkan semerbak rempah yang menguar dari dapur tua sebuah masjid bersejarah: Masjid Jami’ Pekojan.
Di sanalah, sebuah tradisi berusia lebih dari satu abad terus dijaga. Namanya sederhana: bubur India. Namun bagi warga sekitar, hidangan ini bukan sekadar menu berbuka—ia adalah jejak sejarah, simbol kebersamaan, sekaligus pengikat memori lintas generasi.
Warisan dari Tanah Seberang
Kisah bubur India tak bisa dilepaskan dari sejarah kampung Pekojan. Sejak abad ke-19, kawasan ini menjadi tempat bermukim para pedagang keturunan Gujarat, India, yang datang dan menetap di Semarang. Mereka membawa bukan hanya semangat berdagang, tetapi juga budaya, tradisi, dan tentu saja resep masakan dari tanah kelahiran.
Konon, bubur India pertama kali dimasak oleh komunitas India muslim yang beribadah di Masjid Pekojan. Hidangan itu disiapkan untuk berbuka puasa bersama. Seiring waktu, tradisi ini diteruskan oleh takmir masjid dan masyarakat sekitar. Resepnya diwariskan turun-temurun, tetap setia pada racikan awal yang sarat rempah.
Kini, setiap Ramadan, bubur India seolah menjadi “menu wajib” yang selalu dinanti. Tanpa bubur ini, Ramadan di Masjid Pekojan terasa belum lengkap.
Dapur yang Tak Pernah Sepi
Sejak siang hari, dapur masjid sudah mulai sibuk. Beras dalam jumlah puluhan kilogram dicuci bersih, lalu dimasukkan ke dalam kuali besar. Proses memasaknya memakan waktu hingga tiga jam. Bubur harus terus diaduk agar tidak menggumpal atau gosong.
Aroma serai, jahe, daun salam, dan bawang yang ditumis perlahan menyatu dengan santan dan kaldu. Rempah-rempah itu bukan sekadar pelengkap, melainkan jiwa dari bubur India. Sesekali, uap panas mengepul tinggi, membawa wangi yang menggoda siapa pun yang melintas di halaman masjid.
Meski kini peralatan memasak lebih modern, suasana gotong royong tetap dipertahankan. Warga sekitar ikut membantu, dari mengiris bumbu hingga membagikan bubur ke dalam mangkuk-mangkuk saji. Tradisi ini tak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang kerja bersama.
Gurih, Hangat, dan Penuh Karakter
Sekilas, bubur India tampak seperti bubur nasi pada umumnya. Namun begitu sendok pertama menyentuh lidah, perbedaannya langsung terasa.
Teksturnya lembut dan kental, namun tidak terlalu cair. Rasa gurih santan berpadu dengan kaldu yang meresap hingga ke setiap butir beras. Rempah-rempah menghadirkan sensasi hangat di tenggorokan—ada jejak jahe yang samar, wangi serai yang lembut, serta sentuhan bawang yang memperkaya rasa.
Bubur ini tidak pedas menyengat, melainkan hangat dan bersahaja. Cita rasanya kompleks, tetapi tetap ramah di lidah. Inilah yang membuatnya istimewa: ia sederhana, namun kaya karakter.
Disajikan hangat menjelang azan Maghrib, bubur India terasa seperti pelukan setelah seharian berpuasa. Setiap suapan bukan hanya mengembalikan tenaga, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.
Lebih dari Sekadar Takjil
Menjelang waktu berbuka, serambi masjid dipenuhi warga. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula musafir yang kebetulan singgah. Mangkuk-mangkuk bubur tersusun rapi, berdampingan dengan kurma dan minuman hangat.
Ketika azan berkumandang, semua menikmati hidangan yang sama—tanpa memandang latar belakang. Di momen itulah, bubur India menunjukkan makna sejatinya. Ia menjadi medium kebersamaan, perekat sosial, sekaligus pengingat bahwa tradisi bisa menyatukan banyak perbedaan.
Bagi warga Pekojan, bubur ini adalah rasa nostalgia. Banyak yang mengaku sejak kecil sudah mencicipinya, lalu kini datang kembali bersama anak-anak mereka. Tradisi berulang, kenangan pun tumbuh.
Menjaga Api Tradisi
Di tengah modernisasi kota dan perubahan gaya hidup, mempertahankan tradisi lebih dari seratus tahun tentu bukan perkara mudah. Namun Masjid Jami’ Pekojan membuktikan bahwa warisan budaya bisa tetap hidup jika dirawat bersama.
Bubur India bukan sekadar makanan khas Ramadan. Ia adalah cerita tentang migrasi dan akulturasi, tentang komunitas yang berbaur, tentang rempah-rempah yang melintasi samudra dan akhirnya menemukan rumah di Semarang.
Dan setiap kali senja turun di Pekojan, ketika uap hangat kembali mengepul dari kuali besar itu, tradisi lama seolah berbisik: sejarah tak pernah benar-benar pergi. Ia hadir dalam rasa—dalam sepiring bubur India yang hangat di tangan. (jj02/e02)









