Wajah Ahmad Luthfi tampak sumringah. Berbaju jas putih seragam dinas pemimpin daerah, senyum lebarnya memperlihatkan gigi putihnya. Purnawirawan polisi berpangkat akhir komisaris jenderal itu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat berjalan dalam iring-iringan kirab kepala daerah dari kawasan Tugu Monumen Nasional menuju Istana Negara Jakarta, Kamis, 20 Februari 2025. Didampingi pasangannya Taj Yasin Maimoen, Ahmad Luthfi dilantik Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah periode 2025-2030. Keduanya dilantik bersama 33 pasangan gubernur-wakil gubernur, 363 bupati-wakil bupati dan 234 wali kota-wakil wali kota dari 481 daerah hasil pemilihan kepala daerah serentak 27 November 2024.
“Alhamdulillah, sekarang saya dan Gus Yasin sudah dilantik. Selanjutnya kami tinggal kerja keras mewujudkan visi-misi kami dan memenuhi harapan masyarakat Jawa Tengah,” tutur Ahmad Lutfhi.
Pasangan Luthfi-Yasin yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus partai-partai non-KIM, memenangi pilkada Jawa Tengah setelah sukses merebut 11.390.191 suara atau 59,14 persen dari total suara sah. Duet polisi-santri ini mengalahkan pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dijagokan PDI Perjuangan yang hanya meraih 7.870.084 suara atau 40,86%. Kemenangan Luthfi-Yasin ini sekaligus meruntuhkan dominasi PDIP di pilkada Jateng, dimana selama ini pilkada langsung selalu dimenangkan calon yang diusung PDIP.
Ahmad Luthfi lahir di Surabaya, 22 November 1966, anak pertama pasangan Makali dan Musarofah. Ia menikah dengan Nurina Mulkiwati dan dikaruniai tiga anak. Namun tahun 2019, istrinya lebih dulu meninggalkannya akibat penyakit kanker. Hingga kini, Luthfi belum menikah lagi.
Saat SMA, Luthfi pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Islah, Kediri, Jawa Timur. Lulus pondok, ia kuliah hukum di Institut Agama Islam Negeri (sekarang UIN) Sunan AmpelSurabaya dan lulus tahun 1990. Studinya berlanjut ke pascasarjana di bidang kepolisian dan lulus pada tahun 1995. Waktu kuliah, ia aktif di organisasi mahasiswa dan pernah menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi underbow Nahdlatul Ulama. “Ini yang memperkuat kiprah saya dalam dunia kepemimpinan dan keagamaan,” ujarnya.
Mengabdi Jadi Polisi
Selesai kuliah, Luthfi memilih karier pengabdian sebagai polisi. Jalan serupa juga ditempuh kedua adiknya. Adik pertamanya, Zainul Bahas meniti karier sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Darat dan kini berpangkat brigadir jenderal TNI. Sedang adik keduanya, Muhammad Sinwan memilih karier yang sama dengan Luthfi di kepolisian dan saat ini berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP).
Luthfi bergabung dengan kepolisian tahun 1989 dan memulai kariernya dengan pangkat inspektur polisi dua usai menyelesaikan kursus persiapan kepolisian singkat. Ia ditugaskan di Markas Besar Kepolisian RI selama dua tahun, sebelum menerima promosi pangkat inspektur polisi satu. Ia kemudian dipindahtugaskan ke polisi provost, dinas keagamaan, dan dinas intelijen, dengan berbagai peran dan jabatan.
Tahun 2008, Luthfi dilantik sebagai kepala Kepolisian Resor Batang dengan pangkat ajun komisaris besar polisi. Dua tahun bertugas di Batang, Luthfi diangkat menjadi Wakil Direktur Intelijen Kepolisian Daerah Jawa Tengah.Setahun kemudian, 11 April 2011, Luthfi dilantik sebagai wakil kepala Polresta Surakarta.Selama periode ini, Luthfi menjaga hubungan dengan Wali Kota Surakarta Joko Widodo, yang kemudian menjadi presiden RI. Hubungan khusus ini yang mendorong para pengamat mengidentifikasi Luthfi sebagai bagian dari Geng Solo, sekelompok personel polisi dan militer yang aktif di Surakarta selama masa jabatan wali kota Jokowi, yang kemudian dipromosikan ke posisi tinggi selama Jokowi menjabat presiden.
Luthfi menjadi wakil dari dua kapolres Surakarta yang berbeda, yakni Nana Sudjana dan Listyo Sigit Prabowo. Luthfi mendapat kenaikan pangkat menjadi komisaris besar polisi di akhir masa jabatannya sebagai wakil kapolres. Ia dipindahtugaskan ke Divisi Profesi dan Pengamanan serta Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kepolisian. Februari 2015, Luthfi kembali ke Surakarta bersamaan dengan pengangkatannya sebagai Kapolres Surakarta. Maret 2017, ia ditugaskan ke Jakarta sebagai analis sosial budaya di pusat intelijen dan keamanan.
Setahun kemudian, Luthfi dilantik menjadi Wakapolda Jawa Tengah pada 21 Maret 2018dan mendapat kenaikan pangkat menjadi brigadir jenderal polisi pada 4 April.Pada 8 Mei 2020, ia dipromosikan menjadi Kapolda Jawa Tengah pada. Indonesian Police Watch menilai promosi ini fenomenal karena untuk pertama kalinya kapolda Jateng dijabat oleh bukan jebolan Akademi Kepolisian.
Pada 14 Agustus 2024, Luthfi dilantik sebagai inspektur jenderal Kementerian Perdagangan.Sebelum dilantik, ia sudah dipromosikan menjadi komisaris jenderal polisi pada 29 Juli 2024. Tak lama berselang di tahun yang sama, ia mengundurkan diri dari Irjen Kemendag karena akan maju sebagai calon gubernur Jawa Tengah. Partai Gerindra sebagai pengusung utama menilai Luthfi memiliki pemahaman yang mendalam tentang Jawa Tengah karena pernah menjabat Kapolres di Batang dan Surakarta serta selama empat tahun menjabat sebagai Kapolda Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen berjalan dari kawasan Tugu Monas menuju Istana Negara untuk dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Kamis (20/2/2025). (Foto: Humas Pemprov Jateng/Bintoro)
Dukungan Masyarakat
Penilaian itu terbukti dengan terpilih Luthfi sebagai gubernur dalam pilkada. Bersama Taj Yasin, Gubernur Luthfi membawa visi “Jawa Tengah sebagai Provinsi Maju yang Berkelanjutan untuk Menuju Indonesia Emas 2045”. Untuk mewujudkan itu, ia mengusung enam misi, 11 program prioritas, 22 program intervensi, 61 program aksi dan 42 program taktis.
“Peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, maka visi kita harus sejalan, tidak saja keselarasan perencanaan pembangunan, antara pemerintah pusat dan Provinsi Jawa Tengah, namun juga fungsi koordinasi dan supervisi yang lebih intens, akan saya lakukan bersama kabupaten/kota bahkan desa,” jelasnya.
Dalam kepemimpinannya, Luthfi mengusung slogan Ngopeni lan Nglakoni (merawat dan menjalani). Ia mempercayai prinsip bahwa pemimpin itu harus melayani, mengayomi, terjun ke lapangan dan memberi contoh. Sebab, menurut dia, keberhasilan program-program pemerintahannya membutuhkan partisipasi masyarakat. Keikutsertaan masyarakat menjadi hal yang penting dalam membangun Jateng selama lima tahun ke depan.
“Kami membutuhkan masyarakat untuk bersama-bersama bekerja membangun Jawa Tengah. Pemerintah dan masyarakat merupakan tim yang harus bergandengan tangan dan berkolaborasi untuk bekerja bersama-sama. Tegur kami jika kami salah. Kritik yang konstruktif kita perlukan. Seperti jamu, meski pahit tetapi menyehatkan,” tandas Gubernur Luthfi. (berbagai sumber/jj01/e01)









