Gubernur Ahmad Luthfi: Jawa Tengah Masih Kekurangan 1,37 Juta Unit Rumah

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat peletakan batu pertama kluster Sakalint Green Residential, salah satu kawasan Perumahan Grandia Metropolis, di daerah Ngaliyan, Kota Semarang, Selasa (foto : ANTARA)

Semarang, jatengjuara.com – Kebutuhan hunian di Jawa Tengah masih tergolong tinggi. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa hingga saat ini provinsi tersebut masih membutuhkan sekitar 1.372.000 unit rumah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, tantangan perumahan di Jawa Tengah tidak hanya terletak pada jumlah unit yang tersedia, tetapi juga pada kualitas hunian itu sendiri. Pemerintah, kata dia, mendorong pembangunan rumah yang layak huni, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

“Kebutuhan rumah kita masih sangat besar. Namun yang kita dorong bukan sekadar kuantitas, melainkan kualitas hunian yang representatif dan sejalan dengan arah pembangunan lingkungan,” ujar Ahmad Luthfi di Semarang, Selasa.

Pernyataan tersebut disampaikan usai menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Kluster Sakalint Green Residential di kawasan Perumahan Grandia Metropolis, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Kluster perumahan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BUMD PT Jateng Petro Energy (JPEN) dengan pengembang The Grandia Group, serta mendapat dukungan dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah.

Ahmad Luthfi menilai besarnya kebutuhan hunian menjadi peluang strategis bagi pengembang untuk berinvestasi sekaligus menghadirkan inovasi di sektor perumahan, khususnya hunian yang sehat dan berwawasan lingkungan.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong kerja sama antara BUMD dan pihak swasta guna memperkuat ekosistem perumahan hijau sebagai bagian dari komitmen menuju ekonomi hijau (green economy).

“Jawa Tengah ke depan harus bergerak menuju green economy. Sektor perumahan menjadi salah satu pintu masuk yang efektif, karena perubahan dimulai dari rumah dan lingkungan permukiman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gubernur menyebut sektor perumahan memiliki peran penting dalam mendukung transisi hijau, tidak hanya sebagai penyedia tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan energi terbarukan.

“Pengelolaan sampah akan jauh lebih efektif jika dimulai dari rumah. Oleh karena itu, konsep perumahan hijau seperti ini sangat relevan untuk dikembangkan,” tambahnya.

Ia pun mengapresiasi sinergi antara pengembang swasta dan BUMD yang dinilai mampu menghadirkan pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Kami mendukung terobosan seperti ini. Kolaborasi antara BUMD dan pengembang penting agar kebijakan energi dan lingkungan tidak hanya berhenti di atas kertas,” tegasnya.

Selain itu, Pemprov Jateng juga mendorong pemanfaatan energi terbarukan di kawasan permukiman, termasuk penggunaan gas bumi dan panel surya. Ahmad Luthfi menilai, potensi industri panel surya di Jawa Tengah cukup besar dan perlu dimaksimalkan untuk kebutuhan lokal.

“Jawa Tengah memiliki kapasitas industri panel surya yang kuat. Tinggal bagaimana pemanfaatannya di tingkat permukiman bisa dipercepat,” pungkasnya. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh