Longstorage Kalipang Rampung, Perkuat Pasokan Air untuk Sembilan Desa di Rembang

REMBANG, jatengjuara.com – Pembangunan longstorage di Desa Kalipang, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, telah tuntas dan mulai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Infrastruktur pengelolaan air tersebut kini berfungsi sebagai penyangga sumber air baku, khususnya bagi wilayah yang selama ini bergantung pada aliran sungai yang dipengaruhi air laut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPU Taru) Kabupaten Rembang, Marysa, mengatakan bahwa pembangunan longstorage di Kalipang telah selesai sepenuhnya pada Desember 2025. Keberadaan bangunan tersebut dinilai mampu meningkatkan ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan warga di sembilan desa, yakni Kalipang, Sumbermulyo, Gonggang, Gunungmulyo, Nglojo, Jambangan, Pelang, Lodan Kulon, dan Lodan Wetan.

“Pekerjaan sudah rampung seratus persen. Sebelumnya sempat ada kekurangan pada pembangunan embung Kalipang, namun saat ini semuanya telah selesai,” ujar Marysa, Kamis (8/1/2026).

Ia menjelaskan, proyek longstorage sepanjang sekitar lima kilometer itu mulai dikerjakan pada 8 September 2025 oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bangunan tersebut dilengkapi tanggul di kedua sisi sungai, dengan lebar bagian atas sekitar empat meter dan lebar bawah berkisar antara lima hingga tujuh meter.

Berdasarkan perhitungan teknis, longstorage Kalipang diperkirakan mampu menyuplai kebutuhan air bagi sekitar 900 kepala keluarga, sekaligus mengairi kurang lebih 25 hektare lahan pertanian.

Marysa menambahkan, pembangunan longstorage ini merupakan bagian dari proyek strategis nasional dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya di kawasan perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Manfaat keberadaan longstorage juga dirasakan langsung oleh warga. Sarji, warga Desa Kalipang, menuturkan bahwa sebelum adanya bangunan tersebut, air sungai di wilayahnya cenderung asin karena bermuara langsung ke laut. Kondisi itu kerap menyulitkan petani saat musim kemarau. “Sekarang air bisa tertahan di bendungan dan menjadi tawar. Air hujan tidak langsung terbuang ke laut, sehingga saat kemarau petani tidak lagi kesulitan mencari air untuk sawah,” kata Sarji. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh