Mahasiswa Semarang Gelar Salat Gaib dan Aksi Solidaritas di Mapolda Jateng

SEMARANG, jatengjuara.com – Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang menggelar aksi solidaritas untuk AT (14), pelajar yang meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan oleh oknum Brimob. Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Polda Jawa Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kamis (26/2/2026).

Aksi yang diikuti mahasiswa dari 15 kampus itu diawali dengan pelaksanaan salat gaib sebagai bentuk doa bersama dan ungkapan belasungkawa atas peristiwa yang terjadi di Maluku. Massa kemudian membubarkan diri sekitar pukul 19.00 WIB.

Ketua BEM Polines, Kevin Kurnia Priambodo, menyampaikan bahwa salat gaib menjadi simbol empati mahasiswa terhadap korban.

Selain doa bersama, peserta aksi juga menyalakan lilin dan menabur bunga di halaman Mapolda. Takjil turut dibagikan kepada warga sekitar dan mahasiswa yang belum berbuka puasa.

Sejumlah mahasiswa menampilkan teatrikal yang menggambarkan dugaan penganiayaan di Tual sebagai bentuk ilustrasi peristiwa. Aksi kemudian dilanjutkan dengan mimbar bebas dan doa bersama.

Kevin menyatakan kekecewaan atas insiden yang menewaskan pelajar tersebut. “Saya rasa semua kawan-kawan kita dari penjuru Indonesia semua murka, kesal dan kita mau ungkapkan hal tersebut dengan demonstrasi hari ini,” ujarnya.

Dalam aksi itu, mahasiswa membawa sejumlah poster berisi tuntutan, dengan fokus utama pada Reformasi Polri. Mereka menilai evaluasi menyeluruh terhadap institusi kepolisian perlu dilakukan.

Kevin juga menyinggung kinerja Tim Reformasi Polri yang dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan. “Tuntutan kita pertama menuntut reformasi dari Polri,” tegas Kevin.

Selain itu, massa menyuarakan pencabutan jabatan sejumlah pimpinan kepolisian di berbagai tingkatan serta meminta aparat penegak hukum tidak terlibat dalam sejumlah program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). “Ketiga kita menuntut polisi menarik diri dari bentuk andil di SPPG, di Koperasi Merah Putih, dan hal lainnya. Kita menuntut polisi hanya fokus pada mengamankan masyarakat,” tuturnya.

Mahasiswa juga menyampaikan tuntutan agar Menteri HAM, Natalius Pigai, dicopot dari jabatannya terkait pernyataannya mengenai program MBG. “Maka dari itu kita juga menuntut agar Natalius Pigai sebagai menteri HAM juga diturunkan dari jabatannya pada hari ini,” tegasnya.

Kevin menambahkan, apabila tuntutan tidak mendapat respons, mahasiswa berencana menggelar aksi lanjutan setelah Ramadan. Ia juga mengkritisi para pejabat yang dinilainya tidak kompeten dan hanya berorientasi pada kepentingan Presiden Prabowo Subianto. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh