Semarang, 13 April 2026 — Upaya menekan sampah pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah kini mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih sekadar imbauan, kampanye edukatif berbasis konten kreatif justru menjadi strategi utama, dengan melibatkan mahasiswa sebagai motor penggeraknya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Gizi Nasional menggandeng mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) untuk menyasar siswa sekolah dasar di 23 sekolah di Kota Semarang. Fokusnya adalah mengubah perilaku anak-anak agar lebih menghargai makanan dan mengurangi kebiasaan menyisakan konsumsi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Dyah Lukisari, mengungkapkan bahwa langkah ini berangkat dari temuan di lapangan. Program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi siswa justru masih dihadapkan pada persoalan klasik: makanan yang tidak habis dikonsumsi.
“Banyak faktor penyebabnya, mulai dari rasa hingga preferensi anak-anak yang cenderung tidak menyukai menu tertentu seperti sayur,” jelasnya.
Untuk itu, pendekatan komunikasi dinilai menjadi kunci. Mahasiswa dari Program Studi Ilmu Komunikasi Udinus diberi peran penting dalam merancang materi kampanye yang lebih dekat dengan dunia anak-anak. Konten disajikan dalam bentuk video pendek, animasi, hingga pesan visual interaktif yang mudah dipahami.
Sebanyak 230 mahasiswa dilibatkan dalam program ini. Selain menjadi sarana edukasi bagi siswa, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman praktik langsung bagi mahasiswa dalam mengemas pesan publik.
Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Komputer Udinus, Dr Pujiono, menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis yang saling menguntungkan. “Mahasiswa bisa belajar langsung di lapangan, sekaligus berkontribusi pada isu nyata di masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah pusat, Badan Gizi Nasional melihat program ini sebagai inovasi penting. Perwakilan BGN Jawa Tengah, Riyan Eko Prasetyo, menyebut hasil dari kampanye ini akan dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi pelaksanaan MBG ke depan.
“Data yang dihasilkan bisa membantu kami memperbaiki sistem produksi dan distribusi makanan, agar lebih tepat sasaran dan minim pemborosan,” katanya.
Sementara itu, para mahasiswa menyambut tantangan ini dengan antusias. Salah satunya, Widya Wardani, yang berencana membuat konten video edukatif dengan pendekatan ringan dan menarik.
Menurutnya, isu pemborosan pangan bukan hanya soal kebiasaan makan, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan.
“Kalau sejak kecil sudah dibiasakan menghargai makanan, dampaknya akan besar ke depan,” ujarnya.
Melalui pendekatan kreatif ini, diharapkan pesan tentang pentingnya konsumsi pangan bergizi dan anti pemborosan dapat lebih mudah diterima generasi muda, sekaligus memperkuat efektivitas program MBG di Jawa Tengah.









