oleh : Hidayat
Pagi di sudut-sudut Semarang sering dimulai dengan aroma kuah panas yang mengepul dari panci besar. Di balik kepulan itu, ada semangkuk nasi koyor—sajian sederhana berbahan urat sapi—yang sejak lama menjadi teman setia warga kota sebelum memulai aktivitas.
Koyor, bagian urat sapi yang kenyal dan bertekstur khas, dimasak lama hingga empuk. Prosesnya tidak singkat. Daging direbus berjam-jam agar lemaknya luruh, uratnya lunak, dan rasa kaldunya keluar perlahan. Hasilnya adalah kuah gurih yang tidak berlebihan, ringan namun dalam, dengan sentuhan rempah yang bersahaja.
Di Semarang, nasi koyor biasanya disajikan tanpa banyak ornamen. Sepiring nasi putih hangat, irisan koyor, kuah bening kecokelatan, taburan bawang goreng, serta sambal rawit yang menyengat. Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatannya. Tidak ada rasa yang mendominasi, semuanya seimbang.
Bagi banyak warga, nasi koyor bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari rutinitas. Disantap saat pagi masih lengang, di warung kecil pinggir jalan, atau di bawah spanduk sederhana yang sudah memudar warnanya. Pembelinya beragam: buruh, pegawai, sopir, hingga pelanggan setia yang datang sejak puluhan tahun lalu.
Beberapa warung nasi koyor bahkan bertahan lintas generasi. Resepnya diwariskan, cara memasaknya dipertahankan, dan jam bukanya nyaris tak berubah. Ada warung yang habis sebelum tengah hari, menandakan bahwa nasi koyor bukan kuliner musiman, melainkan kebutuhan harian.
Meski bukan ikon resmi kota, nasi koyor punya tempat khusus di hati warga Semarang. Ia hadir tanpa banyak gembar-gembor, kalah populer dari nasi ayam atau lumpia, namun justru itu yang membuatnya terasa dekat. Nasi koyor tidak mencoba tampil istimewa, tapi konsisten memberi rasa yang sama dari waktu ke waktu.
Di tengah menjamurnya kuliner modern dan makanan instan, nasi koyor tetap bertahan dengan caranya sendiri. Hangat, sederhana, dan jujur. Seperti Semarang itu sendiri—tidak selalu mencolok, tetapi meninggalkan kesan yang lama.









