Pakuwon Tegaskan Perbaikan Jadi Solusi Kerusakan 14 Rumah Warga Tinjomoyo, Skema Ganti Untung Tidak Disiapkan

SEMARANG, jatengjuara.com – Pakuwon memastikan akan memperbaiki secara menyeluruh 14 rumah warga RT 006/RW 005, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, yang mengalami kerusakan akibat aktivitas proyek pembangunan kawasan. Perusahaan menegaskan penyelesaian dilakukan melalui mekanisme perbaikan bangunan, bukan pemberian ganti untung.

Head of Human Resources (HR) Pakuwon Group, Iful Novianto, mengatakan sejak awal perusahaan telah menetapkan perbaikan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap rumah warga yang terdampak. Menurutnya, setiap laporan kerusakan akan ditindaklanjuti selama masih berkaitan dengan aktivitas proyek.

“Konsep kami dari awal adalah memperbaiki. Itu yang sampai saat ini menjadi acuan kami ketika melakukan project di mana pun. Karena project ini panjang, kalau rusak ajukan, kami perbaiki. Kalau ada kerusakan lagi, diajukan lagi, kami akan perbaiki,” ujar Iful.

Ia menegaskan perusahaan memang tidak memiliki kebijakan pemberian kompensasi berupa ganti untung. Namun, warga tetap dipersilakan melaporkan apabila ditemukan kerusakan agar dapat diverifikasi dan diperbaiki.

“Ganti untung memang tidak ada dalam skema kami. Kalau ada kerusakan, silakan diajukan, nanti akan kami perbaiki,” katanya.

Menurut Iful, dari total 19 rumah yang terdampak, sebanyak 14 rumah masuk dalam tanggung jawab Pakuwon. Sementara lima rumah lainnya menjadi tanggung jawab Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) karena berkaitan dengan proyek yang berbeda.

Perbaikan yang dilakukan, lanjut dia, tidak hanya berupa penambalan retakan pada permukaan bangunan. Pekerjaan akan diawali dengan penguatan struktur agar hasil perbaikan lebih permanen.

“Kalau ada retakan, tidak kami popok atau tambal begitu saja. Ada metodenya. Kalau bahasa orang awam, kami akan jahit dulu. Kami lubangi, kemudian kami jahit dan cor untuk merekatkan dinding ke dinding,” jelas Iful.

Perusahaan telah melakukan dua tahap survei terhadap rumah-rumah yang terdampak. Pemeriksaan pertama dilakukan oleh tim internal, sedangkan survei lanjutan melibatkan vendor yang nantinya akan mengerjakan proses perbaikan.

Kepastian mengenai perbaikan menyeluruh tersebut disambut positif oleh warga. Tri Wahyudi, salah seorang pemilik rumah terdampak, mengaku warga sebelumnya sempat menolak karena menganggap hanya sebagian kerusakan yang akan diperbaiki.

“Kalau sistem perbaikannya dari pihak Pakuwon seperti yang dijelaskan barusan, kemungkinan warga banyak yang setuju. Kemarin warga tidak setuju karena hanya sebagian yang diperbaiki dan tidak ada penjelasan kapan sisanya diperbaiki. Tadi dijelaskan dari pihak Pakuwon sendiri semuanya diperbaiki tanpa terkecuali,” ujar Tri.

Rumah yang ditempati Tri mengalami berbagai bentuk kerusakan, mulai dari retakan dinding hingga kondisi lantai yang ambles dan memiliki rongga di bagian bawah.

“Dinding banyak yang pecah. Ada yang ambles, ada yang naik, kemudian tanahnya ada yang kosong di bawah. Lantai juga ada yang retak dan bagian bawahnya kosong,” katanya.

Setelah memperoleh penjelasan dari perusahaan, warga memahami bahwa seluruh bagian bangunan yang rusak akan ditangani sesuai hasil pemeriksaan, termasuk apabila di kemudian hari masih muncul kerusakan yang diduga dipengaruhi aktivitas proyek.

“Kerusakan rumah warga, keretakan itu akan diperbaiki keseluruhannya. Lantai, atap, dan dinding akan diperbaiki. Kalau ke depannya rumah itu mengalami kerusakan lagi, kami bisa konfirmasi lagi ke pihak Pakuwon,” tutur Tri.

Pekerjaan perbaikan direncanakan dimulai setelah perayaan Hari Kemerdekaan. Meski demikian, jadwal pelaksanaan akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing pemilik rumah.

“Rencananya kalau tidak salah tanggal 18 Agustus setelah 17-an. Tapi masih menunggu dari pihak saya sebagai tuan rumah kapan siapnya. Kami juga sibuk kerja. Kalau hanya menunggu mereka bekerja, kami juga tidak bekerja dan tidak ada pemasukan,” ujar Tri.

Ia juga menyebut hingga kini belum mengeluarkan biaya pribadi untuk memperbaiki kerusakan rumah karena masih menunggu realisasi pekerjaan dari pihak pengembang.

“Selama ini belum mengeluarkan uang sendiri. Terus terang belum, karena memang kami menunggu dari pihak Pakuwon seperti apa,” katanya.

Selain menangani dampak kerusakan rumah, Pakuwon menilai pembangunan kawasan tersebut juga memberikan dampak ekonomi melalui pembukaan lapangan kerja. Hingga saat ini sekitar 4.000 tenaga kerja telah terserap selama proses pembangunan, dan jumlahnya diperkirakan akan bertambah ketika pusat perbelanjaan mulai beroperasi.

“Dampaknya ada yang positif dan negatif. Kami berusaha menekan dampak negatif dan mengoptimalkan potensi ekonomi yang muncul dari pembangunan kawasan ini,” kata Iful.

“Nanti bisa dibayangkan di sini hadir mal terbesar nomor dua se-Indonesia. Kawasan Gombel yang dulu seperti ini kemudian hadir mal yang besar. Salah satu dampaknya ada serapan tenaga kerja,” paparnya. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh