Pemprov Jateng Tegaskan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan Dampak Tambang

Foto : Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Agus Sugiharto menunjukkan peta lereng Gunung Slamet (ANTARA)

SEMARANG, jatengjuara.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan lereng Gunung Slamet, khususnya di wilayah Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, tidak berkaitan dengan aktivitas penambangan.

Penegasan tersebut disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan dan kajian teknis yang dilakukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.

Kepala Dinas ESDM Jateng, Agus Sugiharto, mengatakan longsor dipicu faktor alam, terutama curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan kehilangan kestabilan, terutama pada lereng dengan kemiringan curam.

“Longsoran terjadi di tubuh Gunung Slamet pada lereng-lereng terjal akibat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Ketika tanah yang gembur sudah jenuh air, kekuatan lereng menurun dan longsor tak terhindarkan,” ujar Agus di Semarang, Rabu.

Menurutnya, karakteristik batuan yang mudah lapuk, struktur tanah berpori tinggi, serta kemiringan lereng menjadi kombinasi utama pemicu longsor di kawasan tersebut.

Agus juga memastikan bahwa lokasi kegiatan penambangan berada di kaki Gunung Slamet dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran. Dengan demikian, aktivitas tambang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa bencana tersebut.

“Tidak ada aktivitas penambangan di tubuh Gunung Slamet. Titik longsor berada jauh di atas area tambang,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, Dinas ESDM Jateng secara rutin menyampaikan peta potensi gerakan tanah kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota setiap bulan, terutama pada musim hujan. Peta tersebut disusun berdasarkan tumpang tindih data kerawanan longsor dengan prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG.

Selain itu, pengawasan terhadap kegiatan penambangan terus dilakukan, termasuk pemberian peringatan kepada pelaku usaha agar mematuhi ketentuan teknis, administratif, lingkungan, dan prinsip good mining practice.

Pemprov Jateng juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan bencana agar meningkatkan kewaspadaan dan segera mengamankan diri saat hujan lebat dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.

“Melalui peringatan dini dan penegakan aturan, kami berharap risiko dan dampak bencana bisa ditekan. Pencegahan akan terus kami lakukan, sekaligus memastikan penanganan bagi warga terdampak,” kata Agus. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh