Penanganan Korban Kekerasan di Semarang Soroti Akses Layanan Kesehatan dan Perlindungan Anak

SEMARANG, jatengjuara.com – Kasus kekerasan yang menimpa seorang pelajar tingkat SMP di wilayah Semarang Utara membuka perhatian terhadap pentingnya sistem perlindungan anak dan akses layanan kesehatan yang memadai. Korban, seorang remaja berinisial T, mengalami luka bakar serius dan kini tengah menjalani perawatan intensif setelah mendapatkan intervensi dari pemerintah daerah.

Awalnya, korban sempat dirawat di fasilitas kesehatan swasta. Namun, keterbatasan pembiayaan membuat proses pengobatan tidak dapat dilanjutkan. Kondisi ini mendorong pihak pemerintah kota untuk mengambil langkah cepat agar korban tetap memperoleh penanganan medis yang layak.

Melalui koordinasi lintas instansi, termasuk dinas yang menangani perlindungan perempuan dan anak serta layanan sosial, korban akhirnya dirujuk ke RSUD K.R.M.T Wongsonegoro. Di rumah sakit milik pemerintah tersebut, korban kini mendapatkan perawatan lanjutan dengan dukungan penuh dari pemerintah.

Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, menyampaikan bahwa instruksi langsung dari Wali Kota menjadi dasar dilakukannya intervensi cepat terhadap korban. “Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2,” ujarnya,

Selain fokus pada aspek medis, perhatian juga diberikan pada kondisi psikologis korban mengingat usia yang masih tergolong anak. Pendampingan dilakukan untuk memastikan proses pemulihan berjalan secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.

Di sisi lain, keluarga korban turut menerima bantuan sosial guna meringankan beban selama masa perawatan berlangsung. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan dasar yang diharapkan dapat membantu stabilitas kondisi keluarga.

Berdasarkan laporan, luka bakar yang dialami korban mencapai sekitar 30 persen, terutama pada bagian tubuh atas. Kondisi tersebut membuat penanganan intensif menjadi sangat penting untuk mencegah infeksi serta komplikasi lebih lanjut.

“Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya rentan sama bakteri, sama virus,” ujar Siwi.

Kasus ini menjadi pengingat akan perlunya respons cepat dan terintegrasi dalam menangani kekerasan terhadap anak, sekaligus menyoroti tantangan yang masih dihadapi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan yang terjangkau. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh