SURAKARTA, jatengjuara.com – Peta politik Jawa Tengah mulai menunjukkan dinamika baru. Menjelang Pemilu 2029, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara terbuka menyatakan ambisi menembus wilayah yang selama puluhan tahun menjadi basis kuat PDI Perjuangan (PDI-P).
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyebut Jawa Tengah bukan lagi “kandang banteng”, melainkan “kandang gajah”, merujuk pada simbol partainya. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah DPW PSI Jawa Tengah di Surakarta, Kamis (8/1/2026).
Dalam forum tersebut, Kaesang mematok target ambisius. PSI membidik perolehan 17 kursi DPRD kabupaten/kota dan provinsi di Jawa Tengah pada Pemilu 2029. Saat ini, PSI baru menguasai 12 kursi, termasuk dua kursi di DPRD Provinsi Jawa Tengah.
Kaesang menegaskan, kunci pencapaian target itu ada pada kekuatan struktur partai di daerah. Para ketua DPC disebut sebagai ujung tombak pergerakan PSI di lapangan. Ia pun meminta seluruh kader di Jawa Tengah solid dan bergerak serentak menghadapi Pemilu 2029.
“Jawa Tengah adalah kandang gajah. PSI hadir untuk masyarakat Jawa Tengah. Kita harus bergerak bersama,” ujar Kaesang.
Berdasarkan hasil Pemilu 2024, posisi PSI di Jawa Tengah masih belum signifikan. Partai ini berada di peringkat ke-10 dengan raihan 477.883 suara atau 2,61 persen. Angka itu tertinggal jauh dari PDI-P yang memimpin dengan lebih dari 5,2 juta suara.
Di bawah PDI-P, suara terbanyak diraih PKB, disusul Gerindra, Golkar, PKS, Demokrat, PPP, PAN, dan Nasdem. Dalam konversi kursi DPRD Provinsi Jawa Tengah, PDI-P menguasai 33 kursi, sementara PSI hanya memperoleh dua kursi.
Meski demikian, PSI mengklaim mengalami tren positif di sejumlah daerah. Di Kota Surakarta, misalnya, perolehan kursi DPRD PSI melonjak dari satu kursi menjadi lima kursi pada Pemilu 2024. Salah satu kader PSI bahkan kini menjabat pimpinan DPRD, dan partai tersebut juga memiliki Wakil Wali Kota Surakarta.
Capaian itu disebut Kaesang sebagai model yang ingin direplikasi ke daerah lain. Untuk memperkuat langkah, PSI mulai melakukan konsolidasi struktur hingga akar rumput serta menjalankan survei politik di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie menambahkan, dukungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo menjadi faktor penting dalam penguatan basis PSI di Jawa Tengah. Jokowi, kata Grace, telah menyatakan komitmen dukungan penuh kepada PSI sejak Kongres PSI di Surakarta pertengahan 2025.
Meski begitu, Grace menegaskan PSI tidak hanya bergantung pada figur Jokowi. Penguatan organisasi dan kerja kolektif kader tetap menjadi fokus utama agar dukungan tokoh dapat diterjemahkan menjadi suara pemilih.
Sementara itu, PDI-P menanggapi santai ambisi PSI tersebut. Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menilai kontestasi Pemilu 2029 masih panjang dan hasil akhirnya sepenuhnya berada di tangan rakyat.
“Pemilu masih lama. Rakyat yang berdaulat dan menentukan,” ujar Hasto saat ditemui di sela Rakernas PDI-P di Jakarta Utara, Minggu (11/1/2026).
Rakernas PDI-P yang digelar bertepatan dengan HUT ke-53 partai itu disebut Hasto sebagai momentum pembenahan internal. PDI-P, kata dia, memilih fokus pada konsolidasi organisasi, penguatan ideologi, serta evaluasi menyeluruh terhadap kerja-kerja partai.
Selain itu, Hasto menegaskan prioritas PDI-P saat ini adalah keberpihakan nyata kepada rakyat, termasuk dalam penanganan bencana. Ia memastikan kader PDI-P bergerak di lapangan tanpa melihat latar belakang pilihan politik warga. “Bagi kami, kemanusiaan adalah yang utama,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, PDI-P optimistis tetap mampu menjaga kedekatan dengan masyarakat Jawa Tengah, terlepas dari tantangan politik yang mulai bermunculan menjelang Pemilu 2029. (jj02/e02)








