SEMARANG, jatengjuara.com – Arus modal yang mengalir ke Jawa Tengah sepanjang 2025 menandai babak baru peta investasi nasional. Provinsi ini mencatatkan realisasi investasi tertinggi sepanjang sejarahnya, menembus angka Rp88,50 triliun. Capaian tersebut dikonfirmasi Kementerian Investasi/BKPM dalam rilis resmi tertanggal 15 Januari 2026.
Lonjakan investasi ini ditopang kuat oleh Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp50,86 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi Rp37,64 triliun. Aktivitas investasi tersebut tersebar dalam 105.078 proyek dan menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja, menjadikan Jawa Tengah salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi berbasis industri di Indonesia.
Capaian ini tidak hadir secara instan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara konsisten memoles iklim investasi agar semakin ramah bagi pelaku usaha. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, pemerintah daerah memosisikan diri bukan sekadar regulator, melainkan mitra strategis investor.
“Kami memastikan kepastian hukum, keamanan, dan kemudahan berusaha. Investor harus merasa yakin dan nyaman ketika menanamkan modalnya di Jawa Tengah,” ujarnya.
Kepercayaan investor yang terus menguat tercermin dari lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pada 2024, realisasi investasi Jawa Tengah tercatat Rp68,67 triliun. Setahun berselang, angkanya melesat Rp19,83 triliun atau tumbuh 28,88 persen.
Akselerasi tersebut dipicu oleh pemangkasan birokrasi perizinan, penguatan kawasan industri, serta stabilitas daerah yang terjaga. Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota bergerak serempak memastikan proyek investasi berjalan tanpa hambatan berarti.
“Kami tidak memberi ruang bagi stagnasi. Hambatan birokrasi dipangkas, dan proyek dikawal agar tepat waktu,” tegas Ahmad Luthfi.
Dari sisi wilayah, investasi tidak lagi terpusat di satu titik. Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengungkapkan lima daerah menjadi motor utama realisasi PMA dan PMDN 2025. Kabupaten Kendal memimpin dengan Rp15,86 triliun, disusul Kota Semarang Rp11,15 triliun, Kabupaten Demak Rp9,06 triliun, Kabupaten Batang Rp6,73 triliun, dan Kabupaten Semarang Rp4,38 triliun.
Menurut Sakina, geliat investasi di kawasan pantura dan sekitar kawasan industri strategis menunjukkan pemerataan mulai berjalan.
“Kendal, Batang, dan Demak membuktikan bahwa kawasan industri terintegrasi mampu menarik investor besar sekaligus membuka lapangan kerja luas,” katanya, Selasa (20/1/2026).
Dari sektor usaha, dominasi industri pengolahan kian mengukuhkan posisi Jawa Tengah sebagai basis manufaktur nasional. Industri kulit dan alas kaki mencatat investasi terbesar Rp11,37 triliun, diikuti industri mesin, elektronik, dan peralatan presisi Rp9,70 triliun. Industri karet dan plastik menyerap Rp8,96 triliun, tekstil Rp7,97 triliun, serta sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp7,47 triliun.
“Dominasi manufaktur ini sejalan dengan arah kebijakan hilirisasi dan penguatan industri padat karya agar manfaat ekonomi dirasakan langsung masyarakat,” jelas Sakina.
Sementara dari sisi negara asal PMA, Hong Kong menjadi investor terbesar dengan Rp12,92 triliun, disusul Singapura Rp11,43 triliun, Tiongkok Rp10,13 triliun, Korea Selatan Rp4,96 triliun, dan Samoa Barat Rp2,96 triliun.
Tak hanya investor besar, sektor Usaha Kecil dan Mikro (UMK) juga menunjukkan performa positif. Sepanjang 2025, investasi UMK di Jawa Tengah mencapai Rp22,143 triliun, naik 12 persen dibanding 2024. Angka tersebut terdiri dari Usaha Kecil Rp7,929 triliun dan Usaha Mikro Rp14,214 triliun.
Dengan fondasi investasi yang kian solid, Pemprov Jawa Tengah menegaskan komitmennya menjaga kepercayaan investor, baik asing maupun domestik.
“Stabilitas daerah, kepastian regulasi, dan sinergi lintas sektor akan terus kami jaga. Target kami jelas: Jawa Tengah menjadi gerbang investasi utama Indonesia,” pungkas Sakina. (jj02/e02)









