Rencana Mal Raksasa di Gombel Disorot, ESDM Sebut Kawasan Sesar Aktif

SEMARANG, jatengjuara.com – Rencana pembangunan pusat perbelanjaan yang diklaim bakal menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia di kawasan Gombel, Kota Semarang, menuai sorotan. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah mengingatkan wilayah tersebut berada di zona geologi aktif.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menegaskan pihaknya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan proyek bernilai investasi triliunan rupiah yang ditargetkan beroperasi pada 2029 itu.

“Ya terkait pembangunan mal tersebut di kawasan Gombel Semarang kami tidak pernah diajak berkonsultasi. Namun daerah itu merupakan zona struktur geologi yang aktif,” kata Agus, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, indikasi pergerakan sesar di kawasan Gombel sudah lama terlihat. Salah satunya dari kondisi Jalan Gombel Lama yang kerap mengalami kerusakan. Selain itu, sekitar 40 rumah di Perumahan Gombel Indah pernah dilaporkan mengalami retak-retak akibat pergerakan tanah.

Agus menjelaskan, karakter tanah di Gombel serupa dengan wilayah Jangli yang dikenal sebagai kawasan tanah gerak di Kota Semarang. Struktur geologinya terdiri dari formasi halang berupa batuan pasir, yang berada di atas formasi rambatan dengan dominasi batuan lempung. Kombinasi ini memungkinkan terjadinya pergerakan tanah secara perlahan.

“Tapi sewaktu-waktu nanti terjadi gerakan pasti akan mempengaruhi terhadap suatu bangunan konstruksi yang ada di atasnya,” ungkapnya.

Meski demikian, Agus meyakini pihak pengembang telah memperhitungkan berbagai aspek teknis, termasuk potensi risiko bencana, dalam perencanaan proyek berskala besar tersebut.

“Mereka pastinya sudah mendapatkan informasi dan dengan teknologinya mereka bisa mengelola hal itu. Dari kami silahkan saja karena proses kewenangan pembangunan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) yang mengeluarkan Pemkot Semarang,” ujarnya.

Terkait potensi kapan terjadinya tanah gerak, ia menyebut tidak ada kepastian waktu. Secara alami, tanah akan berupaya mencapai kestabilan ketika terganggu, namun banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari kemiringan lereng, struktur batuan di bawah permukaan, hingga faktor eksternal seperti curah hujan dan sistem drainase.

“faktor-faktor eksternal lainnya yakni curah hujannya tinggi atau tidak dan sistem drainase yang ada di atas tanah tersebut,” ujarnya.

Agus mengimbau masyarakat maupun pelaku usaha agar mempertimbangkan secara matang rencana pembangunan di kawasan yang memiliki potensi tanah gerak.

“Perlu ada antisipasi atas potensi yang mengancam saat kita ketahui di daerah situ memiliki potensi ancaman terhadap rencana kegiatan kita. Kalau bisa dihindari,” tambahnya. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh