SEMARANG, jatengjuara.com – Revitalisasi kawasan Simpang Lima tidak hanya menyasar perbaikan infrastruktur, tetapi juga menitikberatkan pada penguatan fungsi ruang terbuka hijau. Pemerintah Kota Semarang menyiapkan penanaman pohon asam sebagai identitas baru kawasan, sekaligus mempercantik salah satu ikon Kota Semarang.
Penataan tersebut menjadi bagian dari revitalisasi menyeluruh yang kini mulai berjalan. Selain pembenahan drainase dan pedestrian, pemerintah juga melakukan pembongkaran taman di depan shelter kuliner sebagai tahap awal penataan kawasan.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati, mengatakan revitalisasi dilakukan sesuai arahan Wali Kota Semarang agar Simpang Lima menjadi ruang publik yang lebih representatif.
“Sesuai arahan Bu Wali, kawasan Simpang Lima akan ditata menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih terbuka, dan lebih hijau,” ujarnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Pipie tersebut, sejumlah pohon lama akan diremajakan dan diganti dengan pohon asam yang diharapkan menjadi ciri khas baru kawasan Simpang Lima.
“Nantinya akan ditanam pohon asam. Area lapangan dan ruang terbuka juga akan ditata agar lebih rapi dan nyaman,” katanya.
Keberadaan pohon-pohon baru diharapkan mampu menghadirkan suasana yang lebih teduh bagi masyarakat yang beraktivitas maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut.
Di sisi lain, proses revitalisasi juga mencakup pembenahan fasilitas pendukung. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, menjelaskan pihaknya saat ini melakukan penataan sementara pada area pedestrian setelah pembongkaran taman dilakukan oleh Disperkim.
“Saat ini taman sudah dibongkar oleh Disperkim. DPU melakukan perbaikan lantai sementara dengan plester sebelum nantinya masuk tahap pembangunan permanen,” jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (28/6/2026).
Ia mengatakan pembangunan permanen baru akan dimulai setelah proses lelang proyek selesai, termasuk penggunaan material pedestrian yang lebih kuat dibanding sebelumnya.
“Nanti setelah pemenang lelang ditetapkan baru pembangunan dilanjutkan. Yang jelas kawasan ini akan dibuat lebih bagus dan materialnya juga berbeda dari sebelumnya,” ujarnya.
Rencana penataan tersebut mendapat perhatian dari DPRD Kota Semarang. Dewan berharap revitalisasi tetap mempertahankan bahkan memperkuat fungsi ekologis Simpang Lima sebagai ruang terbuka hijau.
Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang, Danur Rispriyanto, mengaku belum menerima paparan rinci mengenai konsep revitalisasi. Namun, ia menyambut baik upaya mempercantik kawasan selama aspek lingkungan tetap menjadi prioritas.
“Kami berpikir positif, penataan ulang Simpang Lima memang dilakukan agar kawasan ini semakin cantik sebagai ikon Kota Semarang,” katanya.
Danur juga berharap setiap pohon yang ditebang diganti dengan tanaman baru sehingga luas ruang hijau tetap terjaga.
“Kalau ada pohon yang ditebang, harapannya ditanam kembali dengan penataan yang lebih baik. Simpang Lima adalah landmark Semarang, sehingga ruang terbuka hijaunya justru harus ditambah, bukan dikurangi,” tegasnya.
Dengan konsep yang mengedepankan ruang hijau, wajah baru Simpang Lima diharapkan tidak hanya menjadi lebih menarik secara visual, tetapi juga menghadirkan kawasan publik yang lebih nyaman, teduh, dan ramah bagi masyarakat maupun wisatawan. (jj02/e02)









