BOYOLALI, jatengjuara.com — Menjelang musim haji 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan bagi jemaah. Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, mengingatkan seluruh petugas haji agar mengutamakan tugas pelayanan dibanding kepentingan pribadi selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan pembekalan Pendamping Haji Daerah (PHD) di Asrama Haji Donohudan, Senin (30/3/2026).
Menurut Sumarno, hasil evaluasi penyelenggaraan haji sebelumnya masih menunjukkan adanya keluhan jemaah terhadap kinerja petugas. Ia menyoroti adanya petugas yang dinilai lebih fokus menjalankan ibadah pribadi dibanding menjalankan tugas pelayanan.
“Sejak awal harus diluruskan, niat utama adalah menjadi petugas haji. Ibadah itu menjadi nilai tambah, bukan tujuan utama,” tegasnya.
Integrasi Petugas Jadi Kunci
Senada dengan itu, Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Jawa Tengah, Fitriyanto, menekankan pentingnya koordinasi dan integrasi antarpetugas.
Ia menjelaskan, keberadaan PHD menjadi representasi negara dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada total 34.122 jemaah haji reguler asal Jawa Tengah tahun ini.
“Kolaborasi harus sudah terbangun bahkan sebelum jemaah masuk asrama. Ini penting agar pelayanan dan perlindungan bisa maksimal,” ujarnya.
Ratusan Petugas Mulai Disiapkan
Sebanyak 180 petugas PHD mengikuti pembekalan tahun ini, yang terdiri dari 86 tenaga layanan kesehatan dan 94 petugas layanan umum. Mereka dijadwalkan mulai bertugas mendampingi keberangkatan kloter pertama pada 21 April 2026.
Antisipasi Risiko Jemaah Lansia
Sementara itu, salah satu petugas haji dari Kabupaten Demak, Wahid Su’udi, menyatakan kesiapan timnya dalam menghadapi berbagai tantangan pelayanan di lapangan.
Ia menuturkan, persiapan telah dilakukan secara menyeluruh, termasuk memetakan potensi kendala yang kerap muncul dalam pelaksanaan ibadah haji.
“Kami tidak ingin ada jemaah yang terabaikan. Semua potensi masalah sudah kami antisipasi sejak awal,” ujarnya.
Wahid juga menyoroti meningkatnya kompleksitas layanan tahun ini, terutama karena banyaknya jemaah lanjut usia dan kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan perhatian khusus.
“Mayoritas jemaah adalah lansia. Karena itu, kami perkuat koordinasi dengan tim kesehatan agar penanganannya cepat dan tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, sinergi antarpetugas menjadi faktor utama keberhasilan pelayanan, khususnya dalam kloter 35 asal Demak yang akan didampinginya.
“Semua harus bekerja sebagai satu tim. Dengan begitu, pelayanan kepada jemaah bisa berjalan optimal,” pungkasnya. (jj02/e02)









