Semaan Ramadan di Masjid Agung Semarang Terus Lestari Sejak 1970-an, Kini Tersiar hingga YouTube

SEMARANG, jatengjuara.com – Seusai salat Zuhur, serambi Masjid Agung Semarang dipenuhi lantunan ayat suci Alquran. Para jemaah duduk berderet sambil memegang mushaf, menyimak bacaan kiai yang dilanjutkan dengan penjelasan makna ayat. Tradisi semaan Alquran yang digelar setiap 1–27 Ramadan itu kembali menghadirkan suasana religius yang khas dan menyedot umat Muslim dari berbagai penjuru.

Salah seorang jemaah, Agung Wibowo, warga Barutikung, Semarang Utara, tampak khidmat mengikuti rangkaian pembacaan dan tafsir.

“Rutin setiap bulan Ramadan saya ke sini,” ujar Agung, Minggu 22 Februari 2026.

Ia mengisahkan, keseriusannya mengikuti pengajian baru tumbuh sekitar empat tahun terakhir. Sebelumnya, ia merasa pemahaman agamanya masih terbatas.

“Awalnya saya hanya Muslim biasa. Setelah mendalami, sekitar empat tahun lalu, saya mulai rutin ikut semaan. Manfaatnya besar sekali, bisa berkumpul dengan sesama Muslim, menambah ilmu tentang Alquran dan kajian-kajiannya,” katanya.

Baginya, semaan memberikan pemahaman yang lebih mendalam karena tidak hanya membaca, tetapi juga disertai tafsir dan penjelasan keutamaan ayat.

“Kalau hanya membaca, kadang tidak tahu maknanya. Di sini ada tafsirnya, jadi lebih paham. Ramadan ini terasa berbeda, lebih mendekatkan diri kepada Allah, apalagi ini masjid wali, orang-orang percaya ada keberkahannya,” tuturnya.

Pembina Yayasan Masjid Agung Kauman, Imin, menerangkan bahwa tradisi semaan di masjid tersebut telah berjalan sejak dekade 1970-an. Ia bahkan menyebut kegiatan itu sudah berlangsung sejak dirinya masih kanak-kanak.

“Kegiatan ini memang rutin setiap Ramadan. Namanya semaan, tafsir, dan fadilah Al-Qur’an. Jadi ada tiga rangkaian: pembacaan Alquran yang disimak jemaah, penjelasan tafsir, dan penyampaian fadilah ayat,” jelasnya.

Menurut Imin, tradisi ini pertama kali diasuh oleh KH Abdullah Umar dari Kudus. Setelah beliau wafat, estafet pengajaran dilanjutkan oleh murid-muridnya, antara lain KH Ahmad Maqib Nur Al-Hafiz dan KH Abdul Hakim Al-Hafiz.

“Dulu jemaahnya sangat banyak, bahkan bisa ribuan. Ada yang khusus datang dari luar kota, menginap satu bulan penuh hanya untuk mengikuti semaan,” ungkap Imin.

Pada masa-masa awal, semaan menjadi rujukan masyarakat yang ingin memperdalam tajwid dan memahami hukum bacaan Alquran. Jemaah bahkan diminta memberi tanda pada mushaf sesuai kaidah waqaf dan ibtida yang dicontohkan kiai.

“Selain tafsir, juga ada ijazah-ijazah amalan yang disampaikan. Itu bagian dari fadilah ayat,” tambahnya.

Beradaptasi di Era Digital

Memasuki perkembangan teknologi, jumlah jemaah yang hadir langsung memang tak sebanyak dahulu. Jika pada awal Ramadan dulu bisa mencapai lebih dari 5.000 orang, kini rata-rata sekitar 2.000–2.500 jemaah.

“Sekarang sudah ada siaran langsung YouTube. Jadi mungkin sebagian orang memilih mengikuti secara daring,” jelas Imin.

Meski demikian, ia menilai para jemaah yang datang langsung menunjukkan komitmen tinggi. Sebagian rela mengatur ulang aktivitas pekerjaan agar dapat mengikuti pengajian siang hari, dari selepas Zuhur hingga menjelang Asar.

“Mereka punya prinsip, 11 bulan bekerja, satu bulan fokus ibadah dan ngaji,” katanya.

Pengurus masjid memastikan semaan tetap digelar hingga akhir Ramadan. Selain menjaga kesinambungan tradisi, dokumentasi digital melalui kanal YouTube juga dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian metode pengajaran.

“Kita ingin generasi mendatang tetap bisa mendengar cara penyampaian, tafsir, dan ijazah yang diajarkan para kiai,” ujar Imin. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh