SEMARANG, jatengjuara.com – Penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lempongsari, Kota Semarang, ternyata bukan semata akibat viralnya inspeksi mendadak (sidak). Keluhan terkait kualitas makanan disebut sudah berulang kali disampaikan warga jauh sebelum kasus ini ramai di media sosial.
Lurah Lempongsari, Tin Subekti, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima berbagai laporan dari masyarakat, mulai dari guru hingga kader Posyandu, terkait menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai kurang layak konsumsi.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah buah pisang busuk yang ditemukan pada awal Ramadan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penyampaian surat resmi kepada pihak pengelola SPPG.
“Kami sudah beberapa kali menerima komplain dan selalu kami teruskan. Tapi memang ada kejadian yang akhirnya menjadi perhatian serius,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, laporan tersebut berangkat dari kekhawatiran terhadap kualitas gizi bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang menjadi sasaran program MBG. Ia menegaskan bahwa pengawasan dari masyarakat menjadi penting karena distribusi makanan tidak dapat dipantau setiap saat.
Penutupan SPPG sendiri baru dilakukan setelah temuan makanan tidak layak dinilai cukup serius. Meski demikian, pihak kelurahan telah memfasilitasi mediasi antara pelapor dan pengelola SPPG pada hari yang sama.
Dalam mediasi tersebut, pengelola SPPG meminta agar laporan dicabut. Namun, pencabutan dilakukan dengan sejumlah syarat, termasuk komitmen perbaikan sistem distribusi dan pengelolaan makanan.
“Harus ada evaluasi, mulai dari kondisi dapur, kemasan, hingga proses distribusi. Itu semua bisa memengaruhi kualitas makanan,” jelas Tin.
Salah satu poin penting yang disepakati adalah percepatan distribusi bahan makanan setelah diterima, guna mencegah pembusukan akibat penumpukan atau kondisi penyimpanan yang tidak memadai.
Sementara itu, pihak SPPG belum memberikan keterangan resmi kepada media terkait polemik tersebut.
Sebelumnya, SPPG Lempongsari menjadi sorotan setelah sidak yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional viral di media sosial. Dalam inspeksi tersebut, ditemukan berbagai persoalan serius, mulai dari bahan makanan busuk hingga kondisi dapur yang dinilai tidak higienis.
Hasil sidak juga menunjukkan adanya penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar, termasuk penumpukan bahan di dalam pendingin hingga membusuk. Selain itu, aspek kebersihan dinilai buruk, dengan lingkungan dapur yang kotor serta minimnya penggunaan alat pelindung diri oleh petugas.
Pemerintah kemudian memutuskan menghentikan operasional SPPG tersebut untuk sementara waktu sambil menunggu perbaikan dilakukan. (jj02/e02)









