Talud Sungai Longsor di Banyumanik, Satu Rumah Rusak dan Kerugian Ditaksir Rp200 Juta

SEMARANG, jatengjuara.com – Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang memicu longsor talud sungai di kawasan Villa Payung Indah, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (4/2/2026) dini hari dan mengakibatkan satu rumah warga mengalami kerusakan.

Longsor terjadi sekitar pukul 03.15 WIB di sepanjang aliran sungai yang berada di Jalan Ngesrep Raya. Derasnya aliran air menggerus talud sungai hingga ambrol dan menyeret tanah di sekitarnya.

Akibat kejadian tersebut, rumah milik Wilda Nugraha terdampak langsung. Bangunan yang dihuni satu keluarga dengan empat orang anggota keluarga itu mengalami kerusakan cukup parah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan talud yang longsor memiliki ukuran cukup besar, dengan panjang sekitar 30 meter, lebar lima meter, dan tinggi mencapai empat meter.

“Talud sungai tidak mampu menahan debit air yang meningkat akibat hujan deras, sehingga terjadi longsor dan berdampak ke rumah warga,” kata Endro saat dikonfirmasi, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan, derasnya aliran sungai menjadi faktor utama tergerusnya struktur talud. Dampak kerusakan akibat longsor ini diperkirakan menimbulkan kerugian material sekitar Rp200 juta.

Usai kejadian, warga segera melapor kepada ketua RT dan RW setempat, lalu diteruskan ke pihak kelurahan dan kecamatan. Petugas gabungan dari BPBD Kota Semarang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat wilayah langsung mendatangi lokasi.

Tim melakukan pengecekan lapangan, pendataan kerusakan, dokumentasi, serta menyalurkan bantuan darurat untuk memastikan kondisi warga tetap aman.

Endro menambahkan, longsor di Banyumanik menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi di Kota Semarang sepanjang awal 2026. Hingga memasuki puncak musim hujan, tercatat sudah 55 kejadian tanah longsor dan tanah amblas di berbagai wilayah.

“Tanah longsor dan tanah amblas menjadi jenis bencana dengan jumlah kejadian tertinggi di Semarang sejak Januari,” ujarnya.

Wilayah Semarang bagian atas tercatat paling rawan terdampak longsor. Faktor perbukitan, minimnya resapan air, serta berkurangnya vegetasi hijau dinilai memperbesar risiko saat hujan dengan intensitas tinggi.

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Semarang tengah menyiapkan rencana pembangunan embung atau kolam retensi di wilayah dengan daya serap air rendah.

“Kami menyiapkan embung sebagai solusi jangka menengah untuk mengurangi potensi longsor,” kata Endro.

BPBD juga mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan bencana, agar meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta segera berkoordinasi dengan perangkat wilayah jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah atau kondisi berbahaya, terutama saat hujan lebat disertai angin kencang. (jj02/e02)

Berita Terkait Lainnya

  • All Posts
  • Berita Daerah
  • Gaya Hidup
  • Gubernuran
  • Headline
  • Info Grafis
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Liputan Khusus
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Tokoh